Cari Blog Ini

Selasa, 10 April 2012

Meneladani pohon yang baik lagi bermanfaat

Ayo bangunlah tunaikan perintah Allah,Sujud mengharap keampunanNya,Bersyukurlah, bangkitlah segera, Moga mendapat keridhoannya,(Raihan, Peristiwa subuh)
sejuknya dunia ini..


" tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan berupa kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang ) ke langit. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Alah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat". (Q.S Ibrahim 14: 24-25)
       
Saya sedang berjalan di sebuah taman yang mungkin namanya sangat akrab di telinga para mahasiswa di  salah satu perguruan tinggi kedinasan di Indonesia. Di taman itu saya sering memperhatikan dua pohon yang berdiri menjulang, terlihat betapa kokoh kedua pohon itu dengan dedaunan yang rimbun diterpa semilirnya angin, meski tidak terlihat satu buahpun yang pernah di hasilkan, tapi tetap saja kedua pohon itu memberikan manfaat yang besar.. terbukti dengan banyaknya mahasiswa di kampus itu yang menjadikan taman itu sebagai tempat perkumpulan, alasannya sih sederhana… “adem” katanya… ya, tentunya walaupun di siang hari yang terik, taman itu akan tetep adem dikarenakan  ada dua pohon yang dengan setia berdiri tegak memberikan keteduhan kepada mereka…    Tapi apakah hanya manfaat itu saja yang bisa diambil dari pohon itu…?Ternyata tidak…, Allah menciptakan semua makhluk di bumi ini bukan tanpa tujuan.



lantas manfaat apalagi yang bisa kita ambil dari pohon ini.. sebagaimana firman Allah SWT dalam surah ibrahim, manusia hendaknya senantiasa mengambil hikmah dari perumpamaan yang Allah tunjukkan melalui pohon. Sebagaimana kalimat thoyyibah yang diumpamakan seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Tuhannya. Demikian pula posisi kita sebagai manusia, yang senantiasa dituntut untuk berkata yang baik dan benar.

          Darimana dapat kita temukan kata-kata yang baik itu muncul? Tentunya dari pribadi-pribadi yang senantiasa menjaga hati dan lisannya dengan menyiraminya senantiasa dengan ilmu dan keikhlasan.. orang yang tidak memiliki ilmu  akan kehilangan bekal untuk menyirami pohon tadi agar dapat tumbuh menjadi pohon besar dan kuat yang akan memberikan manfaat kepada siapa saja.. orang yang tidak memiliki ilmu akan cenderung berkata menurut hawa nafsunya saja…, tidak memikirkan apa konsekuensi dari perkataan yang diucapkannya….


          Ilmu ibarat hujan yang membasahi padang gersang, hingga menjadi subur yang oleh karenanya padang yang subur tadi akan menjadi tempat tumbuhnya pepohonan yang rindang… dengan ilmu itu pula, suasana yang tadinya panas dan gerah menjadi sejuk… hujan sehari dapat menhapus kemarau bertahun-tahun… ingatkah kita? Bagaimana kisah yang telah dimainkan oleh sayyidina umar bin khattab radiallahu anhu.., betapa kemarau yang dirasakannya membawanya dalam kesesatan yang nyata…, betapa kejahiliaan mengantarkan kepada perbuatan yang dimurkai Allah SWT.. menyembah berhala, dan bahkan mengubur hidup-hidup anak perempuannya yang masih kecil dan lucu… hingga pada suatu ketika Rasulullah hadir membawa ajaran yang sangat mulia dari Allah SWT, yang ibarat hujan, ilmu yang diajarkan itu menghapus kemarau yang dirasakan umar, hingga menumbuhkan benih-benih keimanan dan ketaqwaan yang dari lisan dan perbuatannnya, tumbuh pohon-pohon yang baik.. yang akarnya menghujam ke tanah dan cabangnya menjulang ke langit…,       




          Namun, apakah cukup hanya dengan menyirami pohon itu dengan hujan.. kemudian kita berharap ia akan tumbuh kokoh? Maka ada satu hal lain yang perlu kita lakukan…. Yaitu senantiasa memupuknya dengan keikhlasan… seberapapun ilmu yang kita miliki, jika tanpa di pupuk dengan keikhlasan, maka pohon yang tumbuh, hanya sekedar kuat di batang dan menjulang ke langit saja tetapi pondasi akarnya akan rapuh…,
Jikalau sewaktu-waktu ada badai yang menerpa maka ia akan tumbang… sungguh keikhlasan tersembunyi di bawah relung hati kita… ibarat akar yang tersembunyi di balik tanah, maka hanya dapat kita lihat apabila kita menggali tanah tersebut sebagaimana kita menggali hati kita…

          Sebagaimana  yang para aktivis dakwah lakukan, menyampaikan kalimat yang baik, menyeru kepada Allah SWT adalah sebuah pohon yang baik… tapi, jika tanpa dipupuk dengan keikhlasan, maka seruan kita hanya akan menjadi pohon yang kelihatan kokoh tetapi keropos di akarnya… menyeru dengan perkataan yang baik dibarengi dengan keikhlasan akan meninggalkan bekas di tempatnya. Sebagaimana pohon, kalimat thoyyibah akan meninggalkan jejak yang besar ketika pada suatu masa ia telah tiada…. Dan terlebih jika ternyata pohon yang kokoh tadi memberikan hasil buah yang manis, maka manis buah yang dihasilkannya akan selalu dikenang-kenang hingga kepergiannya… dan dari biji buah tadi kemudian akan muncul benih-benih baru yang siap menggantikannya….. sekian jzk…


Tulisan ini sebagian, terinspirasi dari buku negarawan qurani karya Dedhi suharto, Ak., M.Ak., CIA, CISA, dengan perumpamaan yang sama namun dengan penjelasan yang jauh berbeda.




                                                                                                                  BungUtoy



         



1 komentar: