Cari Blog Ini

Selasa, 18 September 2012


Pengalaman pembuatan KTP elektronik

Maret lalu, saya diajak oleh kakak saya untuk mengurus KTP elektronik di kantor kecamatan, saat itu kami hanya berdua karena keluarga saya dan warga di desa saya sudah pada ngurus KTP beberapa bulan sebelumnya, maklum sebagai mahasiswa yang merantau ke jawa karena kampung saya di sumatera tepatnya sumatera utara, saya baru sanggup untuk pulang 6 bulan sekali, dan saat kepulangan saya itulah saya gunakan untuk mengurus KTP elektronik bersama kakak saya yang kebetulan baru pulang merantau juga dari Aceh.
kami berangkat ke kantor kecamatan pada hari sabtu, karena kami baru sempat hari itu dan kata keluarga saya, kantor kecamatan tetap buka pada hari sabtu untuk melayani pembuatan KTP elektronik. Namun, saat kami tiba di kantor kecamatan, kami tidak menemukan aktivitas apapun. Saat itu yang kami jumpai hanya seorang bapak yang biasa bertugas menjaga kantor kecamatan, dan ketika kami  tanyakan perihal pembuatan e-KTP beliau mengatakan bahwa sejak sebulan belakangan, tepatnya ketika jadwal pembuatan e-KTP untuk desa-desa di seluruh kecamatan sudah selesai semua, maka pelayanan di hari sabtu tidak diadakan lagi. Dan berdasarkan informasi dari beliau perihal kinerja pegawai kecamatan terkait penyelenggaraan e-KTP ternyata cukup mengagumkan, karena kesan yang selama ini melekat di benak saya pribadi dan masyarakat pada umumnya tentang kinerja pemerintah daerah antara lain layanan yang lambat dan ruwet ternyata tidak terjadi di kecamatan saya. Berdasarkan penuturan beliau, pegawai kecamatan rela bekerja lembur hingga malam untuk menyelesaikan pembuatan e-KTP yang sudah dijadwal pada hari itu hingga selesai, dikarenakan  jumlah penduduk yang banyak meskipun sudah dibagi jadwal tiap-tiap desa,  dan tidak ada dana khusus buat pegawai yang sudah bekerja hingga lembur.
Pada senin pekan berikutnya saya datang lagi ke kantor  kecamatan dengan diantar oleh ayah saya. Ketika kami tiba, kami langsung diarahkan ke ruangan pelayanan pembuatan e-KTP, kebetulan pada saat itu yang mengantri tidak terlalu banyak. Dengan proses yang mudah dan pelayanan yang baik dan ramah semua urusan pembuatan e-KTP dapat berlangsung dengan cepat dan sesuai dengan instruksi dari kementerian dalam negeri, pembuatan e-KTP tidak dipungut biaya. Saya cukup puas meskipun kartunya baru dapat didapat awal tahun 2013, dan itu merupakan waktu yang cukup lama, tetapi itu bukan tidak jadi masalah karena itu bukan merupakan wewenang dari kantor kecamatan melainkan proses dari pusat yang lama. Sekian cerita pengalaman dari saya terkait pemuatan e-KTP, mungkin ada cerita yang berbeda di daerah lainnya, Karena memang tiap kecamatan memiliki gaya kinerja yang berbeda-beda, bisa lebih baik ataupun lebih buruk.

                                                                                                -Bung utoy-

Selasa, 10 April 2012

Meneladani pohon yang baik lagi bermanfaat

Ayo bangunlah tunaikan perintah Allah,Sujud mengharap keampunanNya,Bersyukurlah, bangkitlah segera, Moga mendapat keridhoannya,(Raihan, Peristiwa subuh)
sejuknya dunia ini..


" tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan berupa kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang ) ke langit. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Alah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat". (Q.S Ibrahim 14: 24-25)
       
Saya sedang berjalan di sebuah taman yang mungkin namanya sangat akrab di telinga para mahasiswa di  salah satu perguruan tinggi kedinasan di Indonesia. Di taman itu saya sering memperhatikan dua pohon yang berdiri menjulang, terlihat betapa kokoh kedua pohon itu dengan dedaunan yang rimbun diterpa semilirnya angin, meski tidak terlihat satu buahpun yang pernah di hasilkan, tapi tetap saja kedua pohon itu memberikan manfaat yang besar.. terbukti dengan banyaknya mahasiswa di kampus itu yang menjadikan taman itu sebagai tempat perkumpulan, alasannya sih sederhana… “adem” katanya… ya, tentunya walaupun di siang hari yang terik, taman itu akan tetep adem dikarenakan  ada dua pohon yang dengan setia berdiri tegak memberikan keteduhan kepada mereka…    Tapi apakah hanya manfaat itu saja yang bisa diambil dari pohon itu…?Ternyata tidak…, Allah menciptakan semua makhluk di bumi ini bukan tanpa tujuan.



lantas manfaat apalagi yang bisa kita ambil dari pohon ini.. sebagaimana firman Allah SWT dalam surah ibrahim, manusia hendaknya senantiasa mengambil hikmah dari perumpamaan yang Allah tunjukkan melalui pohon. Sebagaimana kalimat thoyyibah yang diumpamakan seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Tuhannya. Demikian pula posisi kita sebagai manusia, yang senantiasa dituntut untuk berkata yang baik dan benar.

          Darimana dapat kita temukan kata-kata yang baik itu muncul? Tentunya dari pribadi-pribadi yang senantiasa menjaga hati dan lisannya dengan menyiraminya senantiasa dengan ilmu dan keikhlasan.. orang yang tidak memiliki ilmu  akan kehilangan bekal untuk menyirami pohon tadi agar dapat tumbuh menjadi pohon besar dan kuat yang akan memberikan manfaat kepada siapa saja.. orang yang tidak memiliki ilmu akan cenderung berkata menurut hawa nafsunya saja…, tidak memikirkan apa konsekuensi dari perkataan yang diucapkannya….


          Ilmu ibarat hujan yang membasahi padang gersang, hingga menjadi subur yang oleh karenanya padang yang subur tadi akan menjadi tempat tumbuhnya pepohonan yang rindang… dengan ilmu itu pula, suasana yang tadinya panas dan gerah menjadi sejuk… hujan sehari dapat menhapus kemarau bertahun-tahun… ingatkah kita? Bagaimana kisah yang telah dimainkan oleh sayyidina umar bin khattab radiallahu anhu.., betapa kemarau yang dirasakannya membawanya dalam kesesatan yang nyata…, betapa kejahiliaan mengantarkan kepada perbuatan yang dimurkai Allah SWT.. menyembah berhala, dan bahkan mengubur hidup-hidup anak perempuannya yang masih kecil dan lucu… hingga pada suatu ketika Rasulullah hadir membawa ajaran yang sangat mulia dari Allah SWT, yang ibarat hujan, ilmu yang diajarkan itu menghapus kemarau yang dirasakan umar, hingga menumbuhkan benih-benih keimanan dan ketaqwaan yang dari lisan dan perbuatannnya, tumbuh pohon-pohon yang baik.. yang akarnya menghujam ke tanah dan cabangnya menjulang ke langit…,       




          Namun, apakah cukup hanya dengan menyirami pohon itu dengan hujan.. kemudian kita berharap ia akan tumbuh kokoh? Maka ada satu hal lain yang perlu kita lakukan…. Yaitu senantiasa memupuknya dengan keikhlasan… seberapapun ilmu yang kita miliki, jika tanpa di pupuk dengan keikhlasan, maka pohon yang tumbuh, hanya sekedar kuat di batang dan menjulang ke langit saja tetapi pondasi akarnya akan rapuh…,
Jikalau sewaktu-waktu ada badai yang menerpa maka ia akan tumbang… sungguh keikhlasan tersembunyi di bawah relung hati kita… ibarat akar yang tersembunyi di balik tanah, maka hanya dapat kita lihat apabila kita menggali tanah tersebut sebagaimana kita menggali hati kita…

          Sebagaimana  yang para aktivis dakwah lakukan, menyampaikan kalimat yang baik, menyeru kepada Allah SWT adalah sebuah pohon yang baik… tapi, jika tanpa dipupuk dengan keikhlasan, maka seruan kita hanya akan menjadi pohon yang kelihatan kokoh tetapi keropos di akarnya… menyeru dengan perkataan yang baik dibarengi dengan keikhlasan akan meninggalkan bekas di tempatnya. Sebagaimana pohon, kalimat thoyyibah akan meninggalkan jejak yang besar ketika pada suatu masa ia telah tiada…. Dan terlebih jika ternyata pohon yang kokoh tadi memberikan hasil buah yang manis, maka manis buah yang dihasilkannya akan selalu dikenang-kenang hingga kepergiannya… dan dari biji buah tadi kemudian akan muncul benih-benih baru yang siap menggantikannya….. sekian jzk…


Tulisan ini sebagian, terinspirasi dari buku negarawan qurani karya Dedhi suharto, Ak., M.Ak., CIA, CISA, dengan perumpamaan yang sama namun dengan penjelasan yang jauh berbeda.




                                                                                                                  BungUtoy



         



Kamis, 08 Maret 2012

jejak

mengukir jejak....
      
         manusia adalah makhluk yang unik...., kehadirannya di muka bumi ini memberikan warna kehidupan yang sangat beragam... tentunya kalau saya bertanya kepada kita semua, apakah kita termasuk yang disebut manusia? tentu kita akan serentak menjawab "YA"...
    namun, apakah kita pernah bertanya pada diri kita masing-masing, "manusia yang seperti apakah saya ini...?" .
   sebagian mungkin faham betul akan dirinya dan dapat menjawab pertanyaan diatas dengan baik, tapi mungkin sebagian yang lain agak ragu utuk mendefinisikan dirinya sendiri... bahkan ada juga sebagian yang lain yang tidak kenal akan dirinya....
         maka, termasuk kedalam bagian yang manakah kita?

sebagamana kodratnya, manusia tergerak oleh ideologi atau cara berfikir mereka yang membawa mereka kedalam perjalanan hidup, hal ini lagi-lagi menambah keunikan manusia itu sendiri...
         namun, tidak sedikit manusia yang terpaksa mengikuti ideologi yang dipaksakan kepadanya tanpa proses berfikir terlebih dahulu...,
                   tetapi, apapun itu kita harus tetap menghargai cara pandang manusia sebagai makhluk yang unik...
    dari sejauh langkah kaki yang tergerak oleh pemikiran kita, sudahkah kita melihat ataupun mengukur kembali, adakah jejak yang kita ukir dari perjalanan yang kita lalui...?
                atau malah kita berdiam diri, tidak ingin melihat ataupun mengukir kembali jejak yang tertinggal... atau bahkan ingin menghapus jejak-jejak yang telah kita torehkan.... dan takut untuk mengukir jejak yang baru....
    yakinkan bahwa setiap jejak yang kita tinggalkan, adalah jejak yang akan selalu kita banggakan....
                 tidak ada kata takut dalam mengukir jejak...
pengetahuan akan menggiring pemikiran kita kepada hal-hal yang baik.... tidak ada kata-kata menyerah.... sebagaimana pemikiran menggiring langkah kita untuk mengukir jejak yang lebih luas.... tanpa ada kata takut ataupun menyerah.... semoga kita dapat mengukir jejak-jejak kita...