Cari Blog Ini

Sabtu, 31 Juli 2021

Tantangan Pelayanan Di masa Pandemi

Tantangan Pelayanan Di masa Pandemi

Oleh: Ahmad Utoyo

Pada akhir tahun 2019, dunia dihebohkan dengan munculnya virus sars-cov 2 yang merebak di wuhan, Tiongkok. Di awal kemunculannya, dunia merespon dengan cara yang berbeda-beda dikarenakan skala penyebaran dan fatality rate nya yang masih sedang diteliti. Memasuki fase awal tahun 2020, badan Kesehatan dunia (WHO) mendeklarasikan virus corona sars-cov 2 atau yang memiliki nama resmi Covid 19, sebagai pandemi global dikarenkan penyebarannya yang telah meluas di dunia. Penetapan status pandemi global ini direspon oleh banyak negara di dunia termasuk Tiongkok (tempat awal virus merebak) dan tentunya termasuk negara Indonesia yang kemudian mengambil kebijakan pengetatan arus pergerakan manusia baik keluar atupun masuk ke negaranya. Kebijakan pengetatan dan atau Lockdown yang diterapkan banyak negara di dunia tentunya berpengaruh kepada kegiatan perdagangan antar negara yang termasuk didalamnya meliputi dokumen-dokumen kepabeanan. 
Kebijakan lockdown oleh negara Tiongkok pada akhir januari 2020 atas wilayah wuhan, hubei dan sekitarnya menyebabkan terkendalanya pengiriman dokumen asli Certified of Origin (Surat Keterangan Asal) sehingga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengeluarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor SE-02 /BC/2020 tentang Pedoman Penelitian Importasi Barang yang Berasal dari China dengan Menggunakan Skema Tarif Preferensi ACFTA (SKA Form E) Sebagai Dampak Epidemik Virus Corona (Covid-19) yang diterbitkan tanggal 18 februari 2020. Surat Edaran tersebut memberikan fleksibilitas penyerahan lembar asli SKA Form E dikarenakan adanya kendala pengiriman akibat pandemi virus corona menjadi paling lambat 90 hari kalender sejak PIB mendapatkan nomor pendaftaran. Pada tgl 30 April 2020 akhirnya pemerintah memberlakukan PMK Nomor 45/PMK.04/2020 sebagai pengganti Surat Edaran Dirjen Bea Cukai yang telah berlaku sebelumnya. Pada PMK 45/PMK.04/2020 diatur terkait penyerahan SKA melalui media eleketronik berupa scan SKA asli berwarna, ataupun unduhan dari website resmi paling lambat 30 hari kalender sejak tgl PIB dan wajib menyerahkan lembar asli SKA paling cepat 90 hari kalender sejak PIB dan paling lambat satu tahun sejak tgl SKA. 
Di sisi lain, dengan adanya perubahan kebijakan tersebut menuntut instansi terkait dalam hal ini KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok untuk menyediakan sebuah sistem penerimaan dokumen melalui media elektronik yang kemudian disebut SLIM (Sistem Layanan Informasi Mandiri), sistem ini mempermudah pengguna jasa dalam men-submit dokumen via media elektronik. Namun demikian, diawal penerapannya, tentunya terdapat beberapa kendala sehingga terdapat keluhan dari pengguna jasa dan bahkan dari kalangan pegawai sebagai user. Kendala seperti server yang down dan lambat ataupun berbagai kendala lain membuat penerimaan dokumen menjadi terhambat sedangkan jumlah dokumen yang masuk khusunya untuk jalur hijau di KPU Bea dan Cukai Tipe A Tj Priok adalah ribuan dokumen setiap harinya. Pengurangan jumlah pegawai yang masuk kantor (WFO) dikarenakan mengikuti aturan pemerintah terkait pembatasan orang, juga menjadi tantangan tersendiri. Namun akhirnya kendala tersebut cukup dapat diatasi dengan adanya penyesuaian-penyesuaian termasuk bekerja dari rumah (WFH) untuk mengerjakan dokumen elektronik diikuti perbaikan sistem layanan. 
Seperti masyarakat pada umumnya, pandemi covid tentunya juga menimbulkan kekhawatiran-kekhawatiran dibenak pegawai terutama yang berhadapan dengan pengguna jasa secara langsung. Namun sebagai pelayan publik, tentunya kita wajib bekerja secara professional dan tetap memberikan pelayanan yang prima. Dalam rangka melaksanakan pelayanan yang prima tersebut, pegawai tentunya wajib mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, agar terhindar dari sebaran covid 19. Adanya pandemi covid 19 ini hendaknya tidak membuat kualitas dan etos kerja kita menjadi turun, melainkan terus meningkat. 
Pada akhirnya, pandemi covid 19 yang sudah berlangsung setahun lebih dan tidak tahu kapan akan berakhir, menuntut kita untuk menjadi pribadi yang disiplin dalam hal menjaga kesehatan dengan mengikuti protokol kesehatan. Pandemi covid 19 juga menuntut kita untuk tetap professional dan berinovasi dalam hal pelayanan ke masyarakat, karena banyak aspek yang terdampak oleh pandemi ini dan kita sebagai pegawai DJBC tentunya wajib mendukung program pemerintah hingga pandemi ini berakhir sehingga kita semua dapat beraktivitas dengan normal seperti sedia kala.

Minggu, 22 November 2020

Cerita perjalananku

Halo sahabat semua.. 

Setelah sekian tahun gak pernah berkunjung ke blog saya ini, rasanya kangen juga ingin menulis lagi.. Hehe

Kali ini mungkin saya akan mulai menulis kisah-kisah perjalanan saya selama berkunjung ke beberapa negara di Asia. 

Sepanjang tahun 2015 sampai 2020, ada beberapa negara yang sudah pernah saya kunjungi. Perjalanan pertama saya ke luar negeri dimulai dengan mengunjungi negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia pada bulan oktober 2015. 

Saat itu, saya baru saja selesai melaksanakan diklat wajib kesamaptaan di Pusdiklat Bea Cukai. Ya, saya merupakan pegawai negeri di Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 

Ceritanya pada november 2014 saya diangkat sebagai CPNS di Ditjen Bea Cukai, dan sebelum resmi diangkat sebagai PNS setahun setelahnya, saya diwajibkan mengikuti beberapa diklat dasar diantaranya prajabatan, Diklat DTSD dan kesamaptaan. Sebagai CPNS, tentunya saya belum menerima penghasilan secara penuh, dan akhirnya pada september 2015 persis ketika selesai mengikuti diklat kesamaptaan, barulah saya mendapatkan rapelan gaji dan tunjangan saya hehe.. Itulah kenapa saat itu, saya dan beberapa teman saya yang sangat ingin menjejakkan kaki ke luar negeri, memulai rencana untuk jalan ke Singapura dan Malaysia. 

Mungkin banyak orang Indonesia yang seperti saya, yang memulai perjalanan "pecah telor" Atau pertama kali ke luar negerinya ke dua negara ini, selain karena berdekatan dan bertetangga dengan Indonesia, kendala bahasa juga tidak terlalu jadi masalah. Ini pendapat pribadi ya hehe.. Soalnya mungkin saja banyak yang keluar negeri pertama kalinya itu ke negara lain seperti Jepang dll. 

Setelah berencana untuk ke singapura dan malaysia, tentunya ada persiapan yang harus dilakukan, pertama tentunya mengurus passport. Untuk pengurusan passport, kebetulan kosan saya di rawamangun tidak jauh dari kantor imigrasi jakarta timur di daerah jatinegara. Setelah seminggu akhirnya passport di tangan. Tiket dan akomodasi sudah kami persiapkan juga dengan bantuan teman kami yang memang sudah pernah berkunjung ke singapura dan malaysia. Dia ikut dalam rombongan kami kali ini, bisa dibilang dia tour leader kami lah hehe.. Lumayan, backpacker ditemani yang sudah pro. Dan debut perjalanan ke luar negeripun dimulai.

Oh iya, sepanjang tahun 2015 sampai 2020 ini, saya sudah berkunjung ke negara-negara selain singapura dan malaysia, yaitu Thailand, Hongkong, Macau, dan India. 

Selanjutnya kisah perjalanan saya akan saya ceritakan di postingan selanjutnya. Demikian prolog saya, see you..



Selasa, 18 September 2012


Pengalaman pembuatan KTP elektronik

Maret lalu, saya diajak oleh kakak saya untuk mengurus KTP elektronik di kantor kecamatan, saat itu kami hanya berdua karena keluarga saya dan warga di desa saya sudah pada ngurus KTP beberapa bulan sebelumnya, maklum sebagai mahasiswa yang merantau ke jawa karena kampung saya di sumatera tepatnya sumatera utara, saya baru sanggup untuk pulang 6 bulan sekali, dan saat kepulangan saya itulah saya gunakan untuk mengurus KTP elektronik bersama kakak saya yang kebetulan baru pulang merantau juga dari Aceh.
kami berangkat ke kantor kecamatan pada hari sabtu, karena kami baru sempat hari itu dan kata keluarga saya, kantor kecamatan tetap buka pada hari sabtu untuk melayani pembuatan KTP elektronik. Namun, saat kami tiba di kantor kecamatan, kami tidak menemukan aktivitas apapun. Saat itu yang kami jumpai hanya seorang bapak yang biasa bertugas menjaga kantor kecamatan, dan ketika kami  tanyakan perihal pembuatan e-KTP beliau mengatakan bahwa sejak sebulan belakangan, tepatnya ketika jadwal pembuatan e-KTP untuk desa-desa di seluruh kecamatan sudah selesai semua, maka pelayanan di hari sabtu tidak diadakan lagi. Dan berdasarkan informasi dari beliau perihal kinerja pegawai kecamatan terkait penyelenggaraan e-KTP ternyata cukup mengagumkan, karena kesan yang selama ini melekat di benak saya pribadi dan masyarakat pada umumnya tentang kinerja pemerintah daerah antara lain layanan yang lambat dan ruwet ternyata tidak terjadi di kecamatan saya. Berdasarkan penuturan beliau, pegawai kecamatan rela bekerja lembur hingga malam untuk menyelesaikan pembuatan e-KTP yang sudah dijadwal pada hari itu hingga selesai, dikarenakan  jumlah penduduk yang banyak meskipun sudah dibagi jadwal tiap-tiap desa,  dan tidak ada dana khusus buat pegawai yang sudah bekerja hingga lembur.
Pada senin pekan berikutnya saya datang lagi ke kantor  kecamatan dengan diantar oleh ayah saya. Ketika kami tiba, kami langsung diarahkan ke ruangan pelayanan pembuatan e-KTP, kebetulan pada saat itu yang mengantri tidak terlalu banyak. Dengan proses yang mudah dan pelayanan yang baik dan ramah semua urusan pembuatan e-KTP dapat berlangsung dengan cepat dan sesuai dengan instruksi dari kementerian dalam negeri, pembuatan e-KTP tidak dipungut biaya. Saya cukup puas meskipun kartunya baru dapat didapat awal tahun 2013, dan itu merupakan waktu yang cukup lama, tetapi itu bukan tidak jadi masalah karena itu bukan merupakan wewenang dari kantor kecamatan melainkan proses dari pusat yang lama. Sekian cerita pengalaman dari saya terkait pemuatan e-KTP, mungkin ada cerita yang berbeda di daerah lainnya, Karena memang tiap kecamatan memiliki gaya kinerja yang berbeda-beda, bisa lebih baik ataupun lebih buruk.

                                                                                                -Bung utoy-

Selasa, 10 April 2012

Meneladani pohon yang baik lagi bermanfaat

Ayo bangunlah tunaikan perintah Allah,Sujud mengharap keampunanNya,Bersyukurlah, bangkitlah segera, Moga mendapat keridhoannya,(Raihan, Peristiwa subuh)
sejuknya dunia ini..


" tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan berupa kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang ) ke langit. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Alah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat". (Q.S Ibrahim 14: 24-25)
       
Saya sedang berjalan di sebuah taman yang mungkin namanya sangat akrab di telinga para mahasiswa di  salah satu perguruan tinggi kedinasan di Indonesia. Di taman itu saya sering memperhatikan dua pohon yang berdiri menjulang, terlihat betapa kokoh kedua pohon itu dengan dedaunan yang rimbun diterpa semilirnya angin, meski tidak terlihat satu buahpun yang pernah di hasilkan, tapi tetap saja kedua pohon itu memberikan manfaat yang besar.. terbukti dengan banyaknya mahasiswa di kampus itu yang menjadikan taman itu sebagai tempat perkumpulan, alasannya sih sederhana… “adem” katanya… ya, tentunya walaupun di siang hari yang terik, taman itu akan tetep adem dikarenakan  ada dua pohon yang dengan setia berdiri tegak memberikan keteduhan kepada mereka…    Tapi apakah hanya manfaat itu saja yang bisa diambil dari pohon itu…?Ternyata tidak…, Allah menciptakan semua makhluk di bumi ini bukan tanpa tujuan.



lantas manfaat apalagi yang bisa kita ambil dari pohon ini.. sebagaimana firman Allah SWT dalam surah ibrahim, manusia hendaknya senantiasa mengambil hikmah dari perumpamaan yang Allah tunjukkan melalui pohon. Sebagaimana kalimat thoyyibah yang diumpamakan seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Tuhannya. Demikian pula posisi kita sebagai manusia, yang senantiasa dituntut untuk berkata yang baik dan benar.

          Darimana dapat kita temukan kata-kata yang baik itu muncul? Tentunya dari pribadi-pribadi yang senantiasa menjaga hati dan lisannya dengan menyiraminya senantiasa dengan ilmu dan keikhlasan.. orang yang tidak memiliki ilmu  akan kehilangan bekal untuk menyirami pohon tadi agar dapat tumbuh menjadi pohon besar dan kuat yang akan memberikan manfaat kepada siapa saja.. orang yang tidak memiliki ilmu akan cenderung berkata menurut hawa nafsunya saja…, tidak memikirkan apa konsekuensi dari perkataan yang diucapkannya….


          Ilmu ibarat hujan yang membasahi padang gersang, hingga menjadi subur yang oleh karenanya padang yang subur tadi akan menjadi tempat tumbuhnya pepohonan yang rindang… dengan ilmu itu pula, suasana yang tadinya panas dan gerah menjadi sejuk… hujan sehari dapat menhapus kemarau bertahun-tahun… ingatkah kita? Bagaimana kisah yang telah dimainkan oleh sayyidina umar bin khattab radiallahu anhu.., betapa kemarau yang dirasakannya membawanya dalam kesesatan yang nyata…, betapa kejahiliaan mengantarkan kepada perbuatan yang dimurkai Allah SWT.. menyembah berhala, dan bahkan mengubur hidup-hidup anak perempuannya yang masih kecil dan lucu… hingga pada suatu ketika Rasulullah hadir membawa ajaran yang sangat mulia dari Allah SWT, yang ibarat hujan, ilmu yang diajarkan itu menghapus kemarau yang dirasakan umar, hingga menumbuhkan benih-benih keimanan dan ketaqwaan yang dari lisan dan perbuatannnya, tumbuh pohon-pohon yang baik.. yang akarnya menghujam ke tanah dan cabangnya menjulang ke langit…,       




          Namun, apakah cukup hanya dengan menyirami pohon itu dengan hujan.. kemudian kita berharap ia akan tumbuh kokoh? Maka ada satu hal lain yang perlu kita lakukan…. Yaitu senantiasa memupuknya dengan keikhlasan… seberapapun ilmu yang kita miliki, jika tanpa di pupuk dengan keikhlasan, maka pohon yang tumbuh, hanya sekedar kuat di batang dan menjulang ke langit saja tetapi pondasi akarnya akan rapuh…,
Jikalau sewaktu-waktu ada badai yang menerpa maka ia akan tumbang… sungguh keikhlasan tersembunyi di bawah relung hati kita… ibarat akar yang tersembunyi di balik tanah, maka hanya dapat kita lihat apabila kita menggali tanah tersebut sebagaimana kita menggali hati kita…

          Sebagaimana  yang para aktivis dakwah lakukan, menyampaikan kalimat yang baik, menyeru kepada Allah SWT adalah sebuah pohon yang baik… tapi, jika tanpa dipupuk dengan keikhlasan, maka seruan kita hanya akan menjadi pohon yang kelihatan kokoh tetapi keropos di akarnya… menyeru dengan perkataan yang baik dibarengi dengan keikhlasan akan meninggalkan bekas di tempatnya. Sebagaimana pohon, kalimat thoyyibah akan meninggalkan jejak yang besar ketika pada suatu masa ia telah tiada…. Dan terlebih jika ternyata pohon yang kokoh tadi memberikan hasil buah yang manis, maka manis buah yang dihasilkannya akan selalu dikenang-kenang hingga kepergiannya… dan dari biji buah tadi kemudian akan muncul benih-benih baru yang siap menggantikannya….. sekian jzk…


Tulisan ini sebagian, terinspirasi dari buku negarawan qurani karya Dedhi suharto, Ak., M.Ak., CIA, CISA, dengan perumpamaan yang sama namun dengan penjelasan yang jauh berbeda.




                                                                                                                  BungUtoy



         



Kamis, 08 Maret 2012

jejak

mengukir jejak....
      
         manusia adalah makhluk yang unik...., kehadirannya di muka bumi ini memberikan warna kehidupan yang sangat beragam... tentunya kalau saya bertanya kepada kita semua, apakah kita termasuk yang disebut manusia? tentu kita akan serentak menjawab "YA"...
    namun, apakah kita pernah bertanya pada diri kita masing-masing, "manusia yang seperti apakah saya ini...?" .
   sebagian mungkin faham betul akan dirinya dan dapat menjawab pertanyaan diatas dengan baik, tapi mungkin sebagian yang lain agak ragu utuk mendefinisikan dirinya sendiri... bahkan ada juga sebagian yang lain yang tidak kenal akan dirinya....
         maka, termasuk kedalam bagian yang manakah kita?

sebagamana kodratnya, manusia tergerak oleh ideologi atau cara berfikir mereka yang membawa mereka kedalam perjalanan hidup, hal ini lagi-lagi menambah keunikan manusia itu sendiri...
         namun, tidak sedikit manusia yang terpaksa mengikuti ideologi yang dipaksakan kepadanya tanpa proses berfikir terlebih dahulu...,
                   tetapi, apapun itu kita harus tetap menghargai cara pandang manusia sebagai makhluk yang unik...
    dari sejauh langkah kaki yang tergerak oleh pemikiran kita, sudahkah kita melihat ataupun mengukur kembali, adakah jejak yang kita ukir dari perjalanan yang kita lalui...?
                atau malah kita berdiam diri, tidak ingin melihat ataupun mengukir kembali jejak yang tertinggal... atau bahkan ingin menghapus jejak-jejak yang telah kita torehkan.... dan takut untuk mengukir jejak yang baru....
    yakinkan bahwa setiap jejak yang kita tinggalkan, adalah jejak yang akan selalu kita banggakan....
                 tidak ada kata takut dalam mengukir jejak...
pengetahuan akan menggiring pemikiran kita kepada hal-hal yang baik.... tidak ada kata-kata menyerah.... sebagaimana pemikiran menggiring langkah kita untuk mengukir jejak yang lebih luas.... tanpa ada kata takut ataupun menyerah.... semoga kita dapat mengukir jejak-jejak kita...